Jejak Digital Awal Masuknya Corona Di Indonesia


Mediapenalaran.com - Pernahkah anda berpikir bagaimana cara Pemerintah dan Perilaku Masyarakat Indonesia dalam mencegah masuk dan menyebarnya Covid-19 alias Corona di Indonesia ?

Artikel ini akan mengurai perjalanan Indonesia mengatasi Covid-19 berdasarkan Jejak Digital yang bersumber dari Situs Online Berita Nasional terpercaya.

WNA SEBARKAN CORONA...

Pada awal Bulan Maret, Indonesia secara resmi mengumumkan Pasien Positiv 01 dan 02 Corona. Presiden Joko Widodo mendadak melakukan jumpa pers, Senin (2/3/2020) siang. Wartawan diminta menuju teras Istana Merdeka oleh staf Biro Pers Sekretariat Presiden.

Tak lama setelah semua wartawan berada di teras Istana, Presiden Jokowi pun datang. Kepala Negara didampingi Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.




Jokowi lalu menjelaskan ada warga negara Jepang domisili Malaysia yang belum lama ini datang ke Indonesia. Setelah kembali ke Malaysia, WN Jepang itu dinyatakan positif Corona.

Jokowi menyebut WN Jepang itu kontak dengan seorang perempuan 31 tahun dan ibunya 64 tahun. Kementerian Kesehatan pun langsung melakukan uji laboratorium terhadap spesimen keduanya. "Dicek, dan tadi pagi saya mendapatkan laporan dari Pak Menkes bahwa ibu ini dan putrinya positif corona," kata Jokowi.

Rupanya, kedua pasien baru tahu mereka positif corona setelah pengumuman dari Jokowi disiarkan oleh media. Sebelumnya, tak pernah ada pemberitahuan dari dokter, pihak rumah sakit Rumah Sakit Sulianti Saroso, Jakarta Utara atau pihak Kementerian Kesehatan. Hal ini terungkap dalam wawancara khusus kepada Kompas yang ditayangkan dalam Kompas Selasa (3/3/2020).

Dari sini kita bisa melihat, Potensi terbesar penyebaran Corona jelas dari para Pendatang yang berkunjung atau pulang ke Indonesia. Belum ada keseriusan Pemerintah menutup celah secara total, walaupun kita pernah mendengar berita Pemerintah mengeluarkan peringatan perjalanan ke Hubei Cina dan Singapura sekira bulan Januari-Februari lalu, namun itu masih menyisakan celah pintu masuk lainnya.

Sehari sebelum diumumkan Pasien Positif Corona pertama, Menteri Kesehatan sempat membantah Gubernur Jakarta tentang Potensi munculnya Corona.



Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto membantah pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengenai sekitar seratus orang dalam pemantauan dan pengawasan terkait wabah corona. Menurut Terawan, semua pemeriksaan terhadap pasien yang diduga terinfeksi virus novel corona (Covid-19) menunjukkan hasil negatif.

MEMANDANG REMEH CORONA...

Staf Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan, Ali Mochtar Ngabalin turut mengomentari soal wabah Virus Corona. Hal tersebut terungkap ketika ditanya mengapa Indonesia masih santai hadapi Corona, Ali Ngabalin menyebut karena RI Negara Tropis.



Masih teringat jelas kelakar Kemenhub “COVID-19 tidak masuk ke Indonesia karena setiap hari kita makan nasi kucing, jadi kebal," kata Budi Karya saat menyampaikan pidato ilmiah dalam acara peringatan Hari Pendidikan Tinggi Teknik (HPTT) ke-74 di Grha Sabha Pramana, UGM, Yogyakarta, Senin (17/2).


Menteri Perhubungan atau Menhub Budi Karya Sumadi positif tertular virus corona atau Covid-19. Informasi itu disampaikan Menteri Sekretaris Negara Pratikno dalam siaran langsung pada Sabtu petang, 14 Maret 2020. Bahkan dikabarkan Tujuh staf Kemenhub Juga ikut tertular Positif Corona.

Selain itu masih juga ada Pejabat yang ngeyel keluar Negeri ditengah wabah Corona ini, walaupun dengan dalih urusan kenegaraan. Akhirnya Pejabat tersebut pun Positif Corona.



Wali Kota Bogor Bima Arya positif Corona setelah kunjungan kerja ke Azerbaijan dan Turki. Juru bicara penanganan Covid-19 yang juga Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Bogor Sri Nowo Retno mengatakan ada lima pejabat yang menjalani tes setelah pulang dari negara tersebut.
Retno menyebut dari hasil tes tersebut menunjukkan dua orang dinyatakan positif Covid-19, salah satunya Wali Kota Bogor Bima Arya. "Berbagai protokol yang berlaku sudah dijalankan sejak kunjungan ke luar negeri menjalankan tugas," ucap Retno melalui keterangan pers pada Jumat, 20 Maret 2020.

PENGATASI PENYEBARAN...

Pasca diumumkannya Pasien Corona pertama di Indonesia, kepanikan sedikit demi sedikit mulai terasa di masyarakat, hal itu terlihat dari semakin banyak masyarakat yang memakai masker, sehingga stok masker di beberapa tempat kosong. Mencegah Penyakit apalagi Covid-19 merupakan hal Normal, sebab kita tidak mengetahui secara pasti siapa saja orang yang telah terjangkit Covid-19 karena harus melalui serangkaian Proses uji Lab PCR.

Hal tersebut mendapatkan sorotan dari Menkes RI, Senin (2/3), Terawan sempat mengomeli para wartawan yang menggunakan masker saat mengikuti konferensi pers di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso. "Saya yang bingung nih yang sakit siapa, kok semua pakai masker. Itu yang sakit saya atau yang sakit kalian. Ini heboh sekali," kata Terawan. Menurut Terawan, masker sebaiknya hanya digunakan oleh orang sakit. "Kalau sakit pakai masker. Kalau sehat ya enggak usah, mengurangi oksigen tubuh kita."



Banyak kebijkan yang dikeluarkan untuk menghalau meluasnya Covid-19 diantaranya, (1) Maklumat Kapolri tentang kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah dalam penanganan penyebaran wabah virus corona atau Covid-19, (2) Penetapan Covid-19 sebagai bencana Nasional Non-Alam (3) Pembatasan Sosial Berskala Besar, hingga (4) Instruksi Pemerintah Pusat hingga Daerah tentang Physical distancing tidak mampu menghalau penyebaran Covid-19 menembus 34 Provinsi di Indonesia.

Setelah berharap dengan Kebijakan PSBB dan Physical distancing tidak juga mempengaruhi angka kenaikan Positif yang sampai Juni 2020 mencapai angka Rata-rata Seribu per-hari, ditambah lagi Ekonomi Masyarakat yang semakin lesu, maka diambil langkah New Normal yakni perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas dengan penerapan protokol kesehatan.

Akhirnya kita sendiri yang akan menjaga Ekonomi dan Kesehatan kita secara pribadi. Karena dalam Prinsip Negara Kapitalis Liberal, Negara tidak boleh mengintervensi secara penuh aktifitas masyarakat terutama kegiatan Ekonomi. []

Cara Mudah Instal Aplikasi ZOOM di HP



Mediapenalaran.com - Aplikasi Zoom merupakan aplikasi mirip dengan video conference yang bisa mempertemukan banyak orang dalam satu waktu yang ingin mengadakan pertemuan rapat atau kuliah secara live.
Situasi hari ini ditengah pandemi Corona, pertemuan face to face harus dihindari. Sebagai solusi, kita bisa memanfaatkan aplikasi canggih zoom cloud meeting di Handphone Android anda.
Melalui aplikasi ini kita bisa share slide presentasi kita dan bisa disimak oleh audience dengan baik dengan suara yang jelas. Kita juga bisa berkomunikasi dua arah. Menarik kan?
Bagaimana Cara Menggunakan Aplikasi Zoom Cloud Meeting, Simak penjelasannya berikut ini. Terlebih dulu buka link https://zoom.us/download


Langkah berikutnya ialah Klik Dowload from Google Play.

Setelah masuk ke Google Play atau Playstore kemudian klik Instal Zoom. Pastikan memori HP kamu belum penuh, untuk menyediakan ruang penyimpanan Zoom.

Jika sudah terinstal silahkan langsung klik Buka untuk membuka Aplikasi.


Pada tahap ini kamu bisa memilih, mau masuk melalui Email atau Facebook. Kalau mau lebih mudah pakai Facebook saja, setelah itu kamu akan diminta memasukkan email dan password.


Setelah anda memasukkan email atau kode facebook, kemudian silahkan klik Join untuk memulai tahapan masuk ke Kelas/Pertemuan.


Klik Join Meeting untuk masuk di Kelas/Pertemuan yang telah terjadwalkan.


Jika kamu masih menunggu Kelas/Pertemuan, kamu bisa keluar aplikasi Zoom dan masuk lagi kemudian akan muncul tampilan diatas Klik Join a Meeting.


Masukkan Meeting ID atau kode meeting yang telah disediakan oleh Admin atau penyedia kelas, serta jangan lupa Nama kamu juga. Klik Join Meeting.

Demikian tutorial menginstal Zoom dari HP yang kami dapat sajikan. Nantikan tulisan kami selanjutnya. []

Gelar Sarjana Dengan Skripsi Buatan Dosen


Mediapenalaran.com - Skripsi seharusnya mampu menjadi bentuk pertanggung jawaban intelektual atau pembuktian secara akademis seorang mahasiswa yang nantinya menjadi syarat kelulusan dan ditetapkan sebagai seorang Sarjana.

Apa jadinya jika Skripsi atau tugas akhir itu tidak dikerjakan oleh mahasiswa, tapi hasil jasa orang lain apalagi Dosen. Fenomena semakin banyaknya kampus di daerah (Kabupaten/Kota) justru menjadi boomerang bagi mahasiswa dan oknum Dosen. 

Mahasiswa ingin serba praktis sedangkan Dosen mencium potensi rupiah yang menggiurkan. Kita tentu pernah menyaksikan, fenomena mahasiswa tingkat akhir yang tanpa susah payah duduk di depan komputer, tanpa susah menelaah buku-buku, tanpa bingung menyelesaikan perhitungan hasil penelitian, tanpa terbeban pembahasan akhir skripsi, karena ada orang lain yang membuat skripsinya, ia tinggal memberi jatah hidup kepada pembuat skripsi itu dengan tarif antara dua juta sampai lima juta Rupiah. Selesai ! 

Jadilah skripsi mahasiswa sebagai ajang menarik mengumpulkan pundi-pundi Rupiah. Kita tidak menutup mata, Realitas dilapangan banyak oknum Dosen yang berceloteh “Jika ingin cepat selesai, Skripsi saya buat!" atau seolah tidak punya malu  Mahasiswa meminta "Bapak/ibu tolong buatkan Skripsi saya, supaya saya cepat Wisuda!" Ironisnya, hal itu tidak tabu lagi di kalangan mahasiswa. 

Mahasiswa tinggal tunggu jadwal sidang dan menerima keputusan lulus dengan bahagia! Mahasiswa cukup santai menerima pembimbing, karena dirinya tidak susah payah memikirkan skripsi dan coretan panjang bisa dihindari. Namun, saat berhadapan pada ujian meja penjelasannya hancur dan memalukan. 

Hal ini tentu berpengaruh negatif bagi sistem Pendidikan kita khususnya citra Perguruan Tinggi yang mempunyai misi melahirkan Lulusan yang cerdas dan beradab. Sebab, praktek seperti ini dapat membuat mahasiswa tidak mau berproses normal, jadilah meraka "pekerja praktis" yang kadang mendapatkan pekerjaan saja harus nyogok, hingga hasil kerjanya pun di kantor/lapangan serba manipulatif. 

Walaupun Dosen tersebut sekadar berniat baik membantu mahasiswanya agar selesai tepat waktu. Itu tentu bukan menjadi alasan. Toh juga banyak mahasiswa yang selesai tepat waktu dengan skripsi buatan sendiri. Parahnya lagi, sang Dosen ini berdalih bahwa pekerjaannya membuat skripsi itu halal karena hasil jeripayah sendiri, setiap tahunpun pekerjaan ini ia jalani. 

Mungkin kita perlu ingatkan kembali bahwa tugas Dosen itu mendidik mahasiswa untuk menggunakan akal sehatnya bukan sebaliknya. Padahal kalau Mahasiswa mau bersabar dan tekun dalam belajar, pasti semuannya bisa dilalui. 

Terkadang kita menemukan teman yang terkatung-katung karena tak kunjung mendapatkan ACC dari Dosen. Ada sebagian dari kita juga yang depresi karena Dosen mencoret skripsinya tanpa belas kasih walaupun telah diperbaiki berkali-kali dengan sangat berhati-hati. Kesulitan itu tidak selamanya buruk bagi kita. 

Hal ini justru menempa kita agar jadi lebih baik dalam penguasaan bidang ilmu yang kita pelajari selama bertahun-tahun dan dapat melatih mental kita agar tidak gampang berputus asa jika sedang diuji dengan berbagai permasalahan hidup terutama di dunia kerja nanti. Jangan nodai perjuanganmu selama bertahun-tahun hanya karena malas mengerjakan skripsi. 

Orangtuamu sudah menaruh harapan yang sangat besar di pundakmu. Jangan kecewakan mereka yang telah banyak berkorban untuk kamu hingga saat ini. Apa kamu tidak perduli ?

Solusi 

Sebenarnya mengerjakan skripsi itu gampang, pikiran kita saja yang membuat seolah menyusun skripsi itu susah. Padahal banyak teman kita bisa menyusun skripsi secara mandiri. 

Tips sederhananya, kita harus berani memulai dulu. Mengusahakan fasilitas pendukungnya seperti meminjam/membeli Leptop atau minimal Flashdisk untuk menyimpan data. Pedoman dan Buku banyak di Perpustakaan atau Internet. Selain itu, kita harus banyak mengambil pelajaran dan motivasi pada teman kita yang telah selesai mengerajakan skripsi. Masalah bimbingan Dosen itu relatif, bersabar dan berdoalah. []

Mendapatkan Uang Lewat Menulis


Mediapenalaran.com – Banyak orang tidak menyadari bahwa potensi yang ada pada diri kita adalah menulis. Cerita-cerita pendek kita di Media Sosial atau coretan-coretan kecil di catatan pribadi keseharian, sedikitnya bisa mengingatkan kita bahwa Potensi itu ada namun kadang terabaikan.

Singkatnya menulis merupakan menuangkan isi pikiran anda lewat media Kertas atau Komputer dan sebagainya. Hal tersebut tentu merupakan rutinitas kita sehari-hari apalagi bagi pelajar, tinggal diatur secara Profesional, bisa jadi tulisan kita dapat menjadi sumber pendapatan walaupun tulisan kita tidak harus menjadi buku. Bagaimana caranya ? berikut sajiannya untuk anda.

1. Membuat Blog Kreatif

Internet telah menjadi konsumsi publik di era milenia sekarang ini, sebagian besar hal yang kita butuhkan bisa didapat melalui Internet, baik itu terkait dengan Ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, layanan dan bisnis dapat di search langsung dengan hasil yang relatif memuaskan.

Melalui blog yang kita isi dengan tulisan-tulisan kreatif dan menarik, tentu menjadi salah satu alternatif bagi para penikmat dunia Internet. Jika Blog anda telah terisi artikel dan tertata dengan rapi, besar kemungkinan pihak pengiklan seperti google adsense dan semacamnya akan bersedia menempatkan iklan mereka di Blog anda dan bersedia membayarnya dengan ketentuan tertentu.

Pertanyaan selanjutnya bagi mana membuat Blog atau Website ? gampang, search saja tutorial lengkapnya di Internet.

2. Penulis Kolom Koran atau Majalah

Tidak harus menjadi Wartawan untuk dapat menulis di Koran atau Majalah tertentu. Umumnya untuk mengakomodir opini publik, pihak Perusahaan Koran atau Majalah menyediakan Kolom Opini atau sejenis bagi para pembaca atau masyarakat umum.

Bagi anda yang mempunyai tulisan atau informasi aktual dan kritis dapat mengirimkan tulisan tersebut melalui alamat email yang telah disediakan. Tulisan yang menarik, sesuai aturan penulisan, dan dikirim secara rutin berpotensi besar diterbitkan oleh Redaksi Koran atau Majalah tersebut.

Namun kadang pihak Koran atau Majalah belum langsung merespon balik tulisan kita dengan transferan, bersabarlah. Perlu diingat juga, salah satu penilaian pihak surat kabar adalah konsistensi kiriman tulisan dari kita.

3. Self Publishing

Self Publishing artinya menerbitkan buku atau majalah secara mandiri (menulis, desain dan cetak sendiri).Bagi anda yang mungkin artikelnya tertolak pada surat kabar, anda bisa membentuk tim bersama teman atau secara personal membuat majalah dengan topik tertentu sesuai dengan sasaran pasar yang dituju.

Misalnya, jika kita berstatus sebagai mahasiswa, majalah yang paling tepat diterbitkan adalah majalah seputar informasi kampus dan mahasiswa.

Biasanya kalau di kampus-kampus besar sudah ada UKM Pers yang telah menerbitkan majalah kampus, tinggal kita ambil bagian didalamnya, atau memilih membuat kelompok dan menerbitkan majalah mingguan atau bulanan.

4. Aktif mengikuti Lomba Menulis

Lomba Menulis telah menjadi rutinitas yang mudah didapatkan. mulai dari Kementerian, Pemerintahan Daerah, Kampus, Sekolah atau Lembaga Pendidikan dan lain sebagainya. Informasi Lomba tersebar luas, di Internet dan publikasi lainya.

Untuk Kemenristekdikti misalnya, secara rutin mengadakan lomba Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) setiap tahunnya dengan dukungan dana hibah untuk kegiatan/penelitian mahasiswa.

Banyak pilihan untuk anda yang mau menyalurkan minat dan bakat dalam hal menulis. Tinggal dipilih mana yang terbaik untuk anda kerjakan. Tinggalkanlah rasa malas anda, karena malas adalah sifat setan. Mau menyerupai setan ?

Dengan menulis anda juga bisa menuangkan pikiran tentang sesuatu hal yang anda kadang tidak sukai atau ide-ide kritis lainnya. Hal tersebut membuat anda kadang lebih lega perasaannya dan berkurang beban pikirannya. Tinggal dipoles sehingga bisa bernilai dan bermanfaat.

Pengalaman hidup, membaca buku, peristiwa dan cita-cita bisa menjadi inspirasi menulis anda yang kadang binggung menentukan topik tulisan. Mulailah dari di mana kamu berdiri, dan berusahalah dengan apa yang kamu miliki. []

Filsafat, Ilmu dan Islam


Mediapenalaran.com - Sebagaimana di berbagai Perguruan Tinggi pada umumnya, disadari bahwa diantara mata kuliah dasar yang dianggap penting untuk membentuk kerangka pikir mahasiswa sebagai insan akademis adalah mata kuliah ‘Filsafat Ilmu’.

Dewasa ini, banyak sarjana-sarjana Muslim yang merasakan bahwa mata kuliah Filsafat Ilmu yang mereka terima di berbagai Perguruan Tinggi, mengandung muatan-muatan yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Misalnya, adalah penolakan terhadap wahyu sebagai Sumber Ilmu, sehingga Ilmu hanya dibatasi dari sumber-sumber pasca indra (empiris) dan akal (rasional). Sehingga Filsafat harus dibebaskan dari dasar agama, dan sebagainya.

Ada beberapa pendekatan yang dipilih manusia untuk memahami, mengolah, dan menghayati dunia beserta isinya. Pendekatan-pendekatan tersebut adalah filsafat, kebudayaan dan agama.

Filsafat adalah usaha manusia untuk memahami atau mengerti dunia dalam hal makna dan nilai-nilainya. Bidang Filsafat sangat luas dan mencakup secara keseluruhan sejauh dapat dijangkauan oleh pikiran. Filsafat berusaha untuk menjawab pernyataan-pernyataan tentang asal mula dan sifat dasar alam semesta tempat manusia hidup serta apa yang merupakan tujuan hidupnya.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa konsep dan Filsafat Ilmu yang secara dominan diajarkan di berbagai Lembaga Pendidikan saat ini adalah konsep Ilmu dalam perspektif Sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) yang tidak mengarahkan pada penguatan keimanan dan akhlakul karimah. Sebagaimana di tunjukkan pada kasus Korupsi, Narkoba, Seksual dan sebagainya yang melibatkan orang-orang bergelar Akademik tinggi.



Kekacauan Berpikir Filsafat

Patutlah dikhawatirkan, jika pengajaran tentang ‘Ilmu’ ini keliru konsepnya, maka akan berdampak pada amal. Sebab semuannya berakar pada Ilmu atau cara pandang tentang sesuatu.

Contoh sederahananya, dalam pelajaran Sejarah Tahun 2000 di Sekolah Menengah Pertama (SMP) terdapat Bab Pembahasan sejarah Manusia Purba. Secara empiris telah ditemukan fosil atau kerangkan Manusia yang menyerupai Kera/Monyet, sehingga bisa diambil kesimpulan bahwa di zaman dahulu terdapat Manusia Kera dan terus berevolusi hingga hari ini menjadi bentuk yang sempurna. Tentu ini bertentangan dengan wahyu yang menyatakan bahwa Manusia Pertama adalah Adam dan Hawa yang tidak ada satu keteranganpun menyebutkan mereka menyerupai bentuk kera.

Kerusakan ilmu saat ini sedang menimpa Umat Islam Khususnya di Indonesia. Di Lembaga Pendidikan Umum terjadi ignorance (kebodohan) terhadap ilmu agama. Banyak sekali sarjana-sarjana dalam bidang ilmu pengetahuan tertentu yang tidak bisa membaca Al-Qur’an atau memahami ajaran-ajaran pokok agamanya. Padahal ilmu agama adalah ilmu yang wajib dimiliki (fardlu ‘ain) oleh setiap muslim. Demikian juga, semakin bertambah ilmu semestinya semakin bertambah pula keimanan seseorang akan Rabbnya. Akan tetapi yang banyak terjadi, semakin pintar seseorang dalam ilmu pengetahuan alam, misalnya, tidak semakin menambah keyakinannya akan Rabbnya. Pemisahan nilai-nilai ketuhanan dari setiap ilmu yang dipelajari telah menyebabkan anak didik menjadi sekuler dari nilai-nilai agamanya.

Sementara itu, di Lembaga Pendidikan Islam terjadi confusion (kekacauan) dalam ilmu-ilmu agama. Gejalanya, sudah menyebar dan biasa di kenal sebagai “kanker epistemologis”. Kanker jenis ini telah melumpuhkan kemampuan menilai serta mengakibatkan kegagalan berpikir yang pada gilirannya menggerogoti keyakinan dan akhirnya menyebabkan kekufuran.

Gejala dari orang yang mengidap kanker ini, di antaranya suka berkata, “di dunia ini, kita tidak pernah tahu kebenaran Absolut (pasti). Kebenaran itu relatif. Agama itu mutlak, sedang pemikiran keagamaan relatif. Semua agama benar dalam posisi dan porsinya masing-masing.” Tidak ada yang bisa mengklaim benar; dan ajaran-ajaran yang dikandung oleh kalam Allah swt juga bisa disesuai dengan zaman, seperti jilbab, hukum potong tangan, aturan pernikahan dll.

Gejala kanker seperti disebutkan di atas saat ini menjadi bagian dari kurikulum di Lembaga Pendidikan. Di sekolah-sekolah ditanamkan apa yang disebut dengan multikultularisme. Misi utamanya menanamkan keyakinan bahwa Islam itu bukan satu-satunya agama yang benar. Kemudian diajarkan dan ditanamkan pluralisme agama; keyakinan bahwa kebenaran ada pada semua agama.

Ilmu dalam Perspektif Islam

Epistemogis secara ringkas disebut sebagai “theory of knowledge” berbicara tentang sumber-sumber ilmu dan bagaimana manusia bisa meraih ilmu. Sementara itu, knowledge atau ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Islam, khususnya, agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan. Al-Quran adalah kitab yang begitu besar perhatiannya terhadap aktivitas pemikiran dan keilmuan. Ini, misalnya, tergambar dari penyebutan kata “al-ilm” dan derivasinya yang mencapai 823 kali.

Ilmu merupakan produk dari pandangan tentang agama, alam, kehidupan, manusia, bangsa, budaya, peradaban, karena itu mengadung nilai dan kepercayaan sehingga ilmu tidak boleh bebas nilai. Prinsip-prinsip epistemologi Islam perlu digali dari pandangan Islam untuk memperoleh hubungan pemikiran yang tentunya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits serta tradisi Intelektual Islam. Epistemologi Islam memiliki kekhasan yang tidak dimiliki epistemologi barat ataupun peradaban lainnya yang pernah ada.

Dalam pandangan Islam yang membentuk epistemologi Islam, secara ontologis (realitas atau kenyataan konkret) terdapat dua alam yang dikenal dengan sebutan yaitu alam metafisika (alam al-ghayb) dan alam fisik yang tampak. Alam metafisik atau alam absolut tersebut tidak dapat diketahui manusia kecuali melalui wahyu karena hanya Allah swt yang mengetahui sesuatu yang gaib, sekalipun Rasul saw penyampai wahyu pun tidak mempunyai pengetahuan atasnya, kecuali apa yang diwahyukan kepadannya. Sebagaimana surah Al-An’aam ayat 50.

Melalui penjelasan di atas disimpulkan bahwa objek ilmu dalam Islam tidak semata-mata berkaitan dengan objek fisik atau yang tampak pada indra dan pikiran manusia, namun ia mencakup objek fisik dan metafisik. Oleh karena itu, kebenaran Ilmu atau hal-hal yang mengandung nilai Ilmiah dalam epistemologi Islam, tidak hanya mencakup hal-hal yang bisa dijustifikasi, diverifikasi atau difalsifikasi oleh fakta empiris dan dirasionalkan melalui eksperimen atau logika semata.[]

Tulisan ini disarikan dari Buku “Filsafat Ilmu; Perspektif  Barat dan Islam. Dr Adian Husain, et. al. Jakarta: Gema Insani, 2013.”